Komitmen Penuh, BPTP Gorontalo Dukung Pertanian Lahan Miring Ramah Lingkungan
Praktek pertanian di lahan kemiringan disinyalir sebagai salah satu penyebabnya Tingginya intensitas bencana banjir di Provinsi Gorontalo. Padahal sudah jelas Gubernur Gorontalo telah mengeluarkan kebijakan bahwa lahan yang dapat diberi bantuan benih jagung adalah lahan dengan kelas kemiringan lereng 0-15 % (232.265,3 ha). Namun faktanya praktek budidaya jagung kelas lereng >15 % masih saja dilakukan dengan mengabaikan praktek pertanian konservatif.
Berdasarkan hal tersebut selasa (16/11) Bappeda Provinsi Gorontalo melaksanakan FGD bertajuk “Pertanian Lahan Miring Ramah Lingkungan”, yang menghadirkan narasumber yang kompeten yaitu Dr. Iswan Dungio (Akdemisi dari UNG), Dr. Amin Nur,SP., M.Si (Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Gorontalo), dan Sugeng Sutrisno (Praktisi Pendampingan Pertanian Konservasi dari Agraria Institute). Peserta FGD terdiri dari Dinas Pertanian Povinsi, Peneliti BPTP Gorontalo, BPDAS Provinsi Gorontalo, BPKH Wilayah XV, DLHK Provinsi Gorontalo, Burung Indonesia dan Japesda Provinsi Gorontalo.
FGD ini menjadi wadah untuk memetakan permasalahan yang dihadapi dalam implementasi program, tantangan dan sekaligus peran masing-masing sektor dalam menjaga produktivitas lahan dan kelestarian lingkungan khususnya pada lahan miring diatas 15 persen. Menurut Max Moerad (Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam BAPPEDA Provinsi Gorontalo), aspek keberlanjutan program adalah hal krusial yang perlu mendapatkan perhatian bersama agar dampaknya semakin bisa dirasakan masyarakat.
Dr. Iswan Dunggio, mengatakan bahwa luas perambahan di Kawasan hutan Provinsi Gorontalo semakin meningkat yang pelan tapi pasti apabila terjadi pembiaran akan menyebabkan bencana banjir besar. Berbagai solusi ditawarkan diantaranya pembuatan DAM penahan, DAM pengandali (hulu), system terasering, Pembuatan embung, Rehabilitasi hutan dan lahan (hulu), Pembuatan sumur resapan di wilayah urban/perkotaan, Normalisasi sungai (Tengah dan Hilir) dan Pembuatan waduk dan kanal (hulu dan tengah DAS).
Pada Kesempatan ini Dr. Amin Nur, SP., M.Si menyampaikan materi tentang Kluster dan Kesesuaian lahan Komoditas tanaman pangan. Dalam presentasi hasil pemetaan kesesuaian lahan komoditas tanaman pangan (padi, kedelai, jagung) di 6 kabupaten kota se Provinsi Gorontalo, lebih dari 60 % komoditas dibudidayakan pada kelas lahan cukup sesuai sampai sesuai marginal dengan berbagai faktor pembatas yang didominasi oleh bahaya erosi. Sehingga kita perlu bersama-sama untuk memberikan pengertian dan pengetahuan kepada petani tentang pentingnya budidaya dengan kaidah konservasi serta pertanian berkelanjutan ungkap Dr. Amin Nur.
Harus diakui bahwa praktek Pertanian Ramah Lingkungan atau Pertanian Konservasi belum banyak dipahami oleh petani. Namun Pertanian di Lahan Miring Ramah Lingkungan bukan mustahil menjadi Program Prioritas RKPD di tahun-tahun mendatang dengan pendampingan yang tepat sebagaimana yang telah berhasil dilakukan di SP-3 Pangea Desa Saritani Boalemo, ungkap Sugeng Sutrisno. Salah satu best practice yang mampu menggerakkan petani untuk berproses bersama hingga mampu menemu-kenali bermacam-macam potensi, kekuatan, peluang, masalah, ancaman, sistem, struktur, budaya, dan nilai yang ada dalam masyarakat, dampak dari pendampingan warga memiliki keterampilan dalam membangun terasering memanfaatkan benih lokal pale ponelo dan binde kiki” imbuhnya.
