Menggapai Asa Peternak Ayam KUB dan Sensi dimasa Pandemi
KUB dan Sensi adalah galur ayam lokal yang merupakan hasil seleksi Balitbangtan, Kementan. Walaupun keduanya sama-sama ayam kampung lokal namun memiliki perbedaan yang tegas. Ayam KUB merupakan ayam tipe petelur dengan ciri fisik warna bulu dominan hitam sedangkan ayam Sensi atau Sentul Terseleksi dikategorikan sebagai ayam tipe pedaging dengan warna bulu dominan abu-abu. Bisa dibilang KUB merupakan kakak tua dari si Sensi mengingat ayam KUB dilepas terlebih dahulu ditahun 2014 disusul ayam Sensi ditahun 2017.
Sudah kesekian tahun diseminasi kedua jenis ayam tersebut dilakukan BPTP Gorontalo, melalui 3 model strata, diantaranya Strata 3. Strata ini ditujukan kepada rumah tangga miskin (RTM) di lokasi pendampingan dengan harapan rumah tangga terpilih dapat memiliki tambahan sumberdaya pangan dan pendapatan melalui pemeliharaan ayam tersebut.
“Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu apa siap menjadi peternak serta menyediakan kandang secara swadaya untuk kegiatan ini?” ujar Penanggungjawab Kegiatan ayam Strata 3 Soimah Munawaroh, S.Pt dipenghujung verifikasi CPCL sekitar 5 bulan lalu di Kantor Desa Bulontala Timur, Kecamatan Suwawa Timur. Serentak peserta rapat menjawab “ Siap Bu!!!”.
Rencana telah disusun, sosialisasi telah dilakukan namun malang tidak dapat ditolak, dunia tiba-tiba saja dilanda wabah Covid-19.
Semua aspek kehidupan terdampak oleh penyakit ini, satu diantaranya adalah, adanya realokasi anggaran pemerintah untuk penanggulangan wabah tersebut. Tidak terkecuali kegiatan ini, ketika awal, direncanakan akan mendistribusikan 2000 ekor DOC kepada 40 RTM tetapi akhirnya hanya menjadi 3 RTM dengan jumlah DOC ayam sebanyak 186 ekor.
Namun demikian, peternak kooperator tetap semangat mengikuti kegiatan ini, terbukti tingkat kematian ayam cukup rendah yaitu sebanyak 3 ekor atau kurang dari 2%.
Selama kurang lebih 70 hari masa pembesaran ayam, tim BPTP (peneliti, penyuluh dan teknisi) mendampingi peternak setiap minggunya dengan mengajarkan cara budidaya ayam KUB dan SENSI seperti teknik perkandangan, penanganan ayam DOC dan fase grower, pemberian pakan, vitamin, vaksin dan biosecurity lingkungan kandang.
“Bu, ayamnya sudah umur 70 hari, jadi bagaimana tindaklanjut kegiatan ?” ungkap Bu Isna kepada tim BPTP saat datang memantau perkembangan ayam KUB. “Ibu diperbolehkan menjual sebagian ayam yang telah ibu pelihara, namun untuk keberlanjutannya Ibu perlu menyisakan beberapa betina dan pejantan agar ibu tetap dapat mengembangkan ayam ini, sebaiknya ayam Sensi saja karena kalau ayam KUB sifat mengeramnya sudah berkurang ” jawab PJ Kegiatan menanggapi pertanyaan tersebut.
Bu Isna pun mengangguk, tanda menyetujui arahan tersebut.
Ya, memang waktu terasa cepat berlalu, setelah sekian lama mendampingi, hingga kini tiba dimasa panen, bobot ayam bervariasi dengan bobot tertinggi mencapai 1,2 kg/ekor.
Bu Isna pun sudah mulai mencari pasar penjualan ayam KUB, berharap jerih payah selama ini dapat kembali dengan berlipat. Semoga pandemi cepat berlalu, sesuai asa semua manusia.
Majulah Petani Indonesia.