Menggali potensi sorgum sebagai pangan, pakan, dan Bioenergi
Dalam acara Bincang Inovasi Seri Pangan Lokal yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian, Kepala BPTP Gorontalo Dr. Amin Nur, SP., M.Si didaulat sebagai pembicara untuk mengupas tuntas potensi sorgum di Indonesia.
Dr. Amin Nur menjelaskan bahwa sorgum merupakan tanaman dari family Graminae. Di Indonesia, sorgum lebih dikenal sebagai tanaman serealia dari golongan C4, sehingga sorgum merupakan tanaman dengan biomassa tinggi dan di dalam siklus hidupnya tidak membutuhkan naungan karena membutuhkan sinar matahari penuh. Sorgum merupakan sumber pangan potensial karena memiliki biji 40-100 gram/malai. Rata-rata produksi biji 6.36 ton/hektare (ha) dengan potensi biji bisa mencapai 8-9 ton/ha. Berat batang sorgum 400-800 gram/batang bisa dijadikan sebagai sumber pakan dan fuel. Varietas terbaru dari Badan Litbang Pertanian yaitu Bioguma 1, Bioguma 2 dan Bioguma 3 biomassanya mencapai 45-50 ton/ha.
Tanaman sorgum berpotensi mengantisipasi dampak perubahan iklim global karena memiliki daya adaptasi luas khususnya daerah marginal dan lahan kering dan tidak memerlukan input yang tinggi. Produksi biji dan biomass juga jauh lebih tinggi dibanding tanaman tebu dan serealia lain. Kebutuhan air sorgum hanya sepertiga dari tebu dan setengah dari jagung. Sorgum juga memerlukan pupuk relatif lebih sedikit dan pemeliharaannya lebih mudah. Selain itu, umur panen sorgum lebih cepat 100-110 Hst (hari setelah tanam) dan sekali tanam dapat diratun 2-3 dalam setahun.
Sorgum merupakan tanaman serealia potensial karena semua bagian tanaman memiliki nilai ekonomi. Biji sorgum dapat menjadi sumber pangan karena memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi dan sebagai subtitusi tepung terigu untuk berbagai produk olahan roti dan kue. Ungkap Amin
Daun dan batang sorgum merupakan sumber pakan berfungsi meningkatkan bobot hewan ternak serta meningkatkan produksi daging dan susu. Batang sorgum yang manis merupakan sumber bioetanol, gula cair, gula kristal dan produk lain tergantung jenis usaha yang akan dikembangkan.
Senada dengan Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry pada sebuah acara di Bogor beberapa waktu yang lalu menyatakan bahwa sorgum merupakan komoditas yang dapat dimanfaatkan untuk pangan, pakan dan energi.
Pada kesempatan ini Dr. Amin Nur juga mengungkapkan bahwa BPTP Gorontalo sudah menghasilkan gula dalam bentuk padat dan saat ini masih berproses untuk menghasilkan gula terbaik. Selain itu kami juga sedang membuat gula semut. Dari batang sorgum bisa didapatkan nira antara 0,10 – 0,15 liter/batang atau 7.143 - 10.714 liter/ha dengan kandungan gula Brix 12-17 persen. Kandungan gula brix pada tanaman sorgum ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan. “Ketika kita memanen tanaman sorgum saat musim hujan volume niranya meningkat tapi gula brixnya menurunnya. Namun saat memanen pada musim kemarau, kandungan gula brixnya bisa mencapai 17 persen, Ampas batang bisa diolah menjadi silase untuk pakan ternak. Seratnya juga bisa diolah menjadi etanol dengan bantuan enzim dengan potensi 4.286-6.428 liter/ha etanol atau gula cair” Kata Amin Nur.
.jpeg)
Tanaman sorgum juga berpotensi untuk mengoptimalisasi pemanfaatan lahan kering, lahan marginal dan lahan yang tidak diusahakan, serta menambah pendapatan petani. "Tanaman ini luar biasa bandel. Di Gorontalo kami menanam tanaman sorgum di bekas tanah timbunan bercampur batu. Sampai sekarang pertumbuhannya sangat luar biasa,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, Amin memaparkan permasalahan atau tantangan pengembangan tanaman sorgum di Indonesia antara lain jaminan pasar belum pasti; produkvitas dan produksi masih rendah; benih dalam jumlah besar masih terbatas; dan peralatan pasca panen belum banyak di tingkat petani.
Selain itu, produk olahan sorgum belum banyak dikenal masyarakat dan industri tepung skala UMKM di daerah sentra belum terbentuk sehingga daya saing produk sorgum masih rendah.
Dalam pengembangan sorgum di Indonesia, perlu didorong petani milenial/penyuluh/praktisi dalam berusaha tani sorgum dan selalu berpikir inovatif serta penuh inspirasi. “Kita harus mengubah pola pikir, tidak selalu berpikir dimana saya pasarkan, dan siapa yang menampung. Namun selalu berpikir dengan menuangkan ide-ide kreatif untuk menciptakan pasar dan berkelanjutan".