Launching Penetapan Target Tanam Oktober 2020 – Maret 2021 dan Brigade La Nina
Dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan, mengamankan produksidan meningkatkan kesejahteraan petani, diperlukan komitmen bersama, baik di level pusat maupun level daerah. Hasil pengamatan BMKG dan Sistem Kalender Tanam Terpadu (KATAM-Balitbangtan), akhir September 2020 masuk kategori basah dan Bulan November 2020 –Maret 2021 intensitas curah hujan tertinggi,diperlukan antisipasi untuk mengamankan pertanaman terhadap banjir dan longsor. Sehubungan dengan hal tersebut, maka Bapak Menteri Pertanian dalam arahannya pada pertemuan secara virtual pada penetapan target tanam Oktober 2020 –Maret 2021 dan Brigade La Nina telah diresmikan.
Acara ini dihadiri oleh seluruh Kepala Dinas Lingkup Pertanian Provinsi se-Indonesia. Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura se-Indonesia. Kepala Dinas Lingkup Pertanian Kabupaten/Kota se-Indonesia, Kepala BPTP Balitbangtan Seluruh Indonesia dan terutama kepala daerah baik Gubernur maupun Bupati di Seluruh indonesia. Termasuk Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo dan Kepala BPTP Balitbangtan Gorontalo.
Hingga akhir September 2020, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan bahwa anomali iklim La-Nina sedang berkembang. Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur dalam kondisi dingin selama enam dasarian terakhir dengan nilai anomali telah melewati angka -0.5°C, yang menjadi ambang batas kategori La Nina. Perkembangan nilai anomali suhu muka laut di wilayah tersebut masing-masing adalah -0.6°C pada bulan Agustus, dan -0.9°C pada bulan September 2020
Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40% di atas normalnya. Namun demikian dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia. Pada Bulan Oktober-November, peningkatan curah hujan bulanan akibat La Nina dapat terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali Sumatera. Selanjutnya pada Bulan Desember hingga Februari 2021, peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku-Maluku Utara dan Papua
Peningkatan curah hujan seiring dengan awal musim hujan disertai peningkatan akumulasi curah hujan akibat La Nina berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor. Para pemangku kepentingan diharapkan dapat lebih optimal melakukan pengelolaan tata air terintegrasi dari hulu hingga hilir misalnya dengan penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air yang berlebih.