BUDIDAYA BAWANG MERAH DENGAN TSS (TRUE SHALLOT SEED)
Pendahuluan
Era informasi digital melalui media elektronik dan alur informasi melalui sistem jaringan dunia maya telah merambah sampai ke pelosok-pelosok desa. Seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, budaya dan sebagainya sudah dirambah oleh kemajuan tenknologi informasi ini. Hal ini menuntut setiap orang untuk “ramah teknologi” sehingga dapat mengikuti perkembangan informasi yang dibutuhkan.
Materi penyuluhan yang selama ini didistribusikan secara konvensional baik melalui media cetak (koran, brosur, leaflet, dll), maupun media elektronik (dalam bentuk iklan tayangan, film, saung tani, dll) memerlukan biaya yang relatif besar dan butuh waktu panjang, sementara hasilnya juga belum tentu optimal. Sehingga timbul kesan bahwa dengan metode penyuluhan seperti itu, para penyuluh dianggap stagnant dalam kinerjannya. Secara perlahan metode yang sudah “ketinggalan zaman” itu harus mulai dialihkan dengan metode penyuluhan berbasis internet, karena kalau masih mempertahankan pola konvensional, bukan tidak mungkin para penyuluh justru akan ketinggalan informasi dibandi dengan petani yang disuluhnya.
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas utama hortikultura yang permintaannya terus meningkat setiap tahunnya. Masuk dalam famili Liliaceae, Bawang Merah merupakan sayuran semusim, berumur pendek. Umumnya Bawang Merah diperbanyak dengan umbi (vegetatif,) namun beberapa tahun belakangan Badan Litbang Pertanian memperkenalkan budidaya Bawang Merah secara generatif atau menggunakan biji atau True Shallot Seeds (TSS).
Peluang pemanfaatan TSS sebagai benih Bawang Merah sangat prospektif dan akan mampu mengatasi sistem pasokan produksi bawang merah sepanjang tahun dengan efisien. Selain murah pada ongkos pengiriman benih, budidaya dengan TSS mencegah fluktuatif harga benih yang sebelumnya menggunakan umbi.
Keunggulan Benih TSS Bawang Merah :
- Kebutuhan benih 5- 7 kg/ha dibanding umbi sekitar 1-1.5 ton/ha
- Menghemat biaya benih : TSS = 5-7 kg/ha x Rp.2 juta/kg = 10-14 juta/ha Umbi = 1-1.5ton/ha x Rp. 40 Ribu/kg= 40-60 juta/ha
- Bebas virus dan penyakit tular benih
- Menghasilkan tanaman yang lebih sehat
- Daya hasil tinggi (Produksi Lipat Ganda/Proliga)
- Produksi bawang asal TSS bermanfaat ganda, yaitu sebagai bahan tanam (benih umbi) dan juga sebagai produk (umbi) konsumsi.
- Mudah pengangkutan/distribusi, murah biaya kirim/distribusi benih
Alur Budidaya
- Persemaian
- Benih TSS bawang merah sebelum disemai bisa direndam terlebih dahulu selama 3-4 jam atau bisa juga langsung disemian. Sebelum dihambur benih diberi perlakuan insektisida dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT).
- Untuk persemaian menggunakan kotak semai, media semai yang digunakan yaitu 100 % tanah bertekstur gembur, remah dan subur. Ketebalan bak semai minimal 5 cm. Media tanah yang telah diletakkan di bak semai, dibuat alur-alurdengan jarak antar alur kurang lebih 3-5 cm dan kedalam alur ± 0.5-1 cm. Selanjutnya benihTSS dihambursecara merata di alur-alur yang telah dibuat dan ditutup menggunakan cocopit (serbuk kelapa halus) atau serbuk gergaji kayu kering atau tanah halus atau sekam bakar.
- Untuk persemaian di lahan bedengan bisa diberi naungan paranet hitam atau plastik buram untuk mengurangi terik matahari dan menghindari curah hujan. Buat bedengan dengan lebar ± 1 m, tinggi 40-50 cm, dengan panjang sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan lahan. Bedengan yang telah dibuat,diaplikasikan pupuk organik granul ± 2 kg/m2dicampur secara merata diatas permukaan bedengan. Pencampuran bisa menggunakan mesin cultivator ataudengan cangkul.
- Bedengan yangtelah siap, selanjutnya dibuat alur-alur dengan jarak 5- 10 cm, kedalaman 1 cm.Biji TSS selanjutnya ditaburkan secara merata (dan tidak menumpuk di satu titik) ke dalam alur-alur yang telah dibuat (1gram/m2), selanjutnya alur ditutup dengan media cocopit atau serbuk gergaji kayu kering atau tanah halus atau sekam bakar atau secara merata.Selanjutnya bedengan semai ditutup menggunakan paranet hitam atau daun pisang. Pada umur 4 hari setah semai, penutup dibuka dan dibuat sungkup semai menggunakan paranet atau plastik buram atau plastic UV dengan system buka tutup. Mulai umur 7 hari, persemaian diaplikasikan dengan pupuk daun 1-2 kali seminggu, dan dilakukan penyiraman secara rutin untuk menjaga kelembaban tanah.
- Pada fase persemaian perlu diwaspadai serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman). Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual, yaitu disiangi dengan tangan. Untuk mengendalikan hama seperti orongorong, semut dan cacing dapat digunakan umpan campuran bekatul 1 Kg dan Dursban 50 ml. Untuk mengendalikan hama ulat bawang yang menyerang, setelah bibit berumur satu bulan dapat digunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, piretroid, spinosad atau profenofos. Penyemprotan insektisida menggunakan sprayer dan dilakukan pada sore hari. Untuk mencegah serangan jamur persemaian diaplikasi fungisida sebanyak 2 kali yaitu umur 7 HSS dan 25 HSS. Setelah bibit berumur 5-6 minggu (+- 40 hari) , bibit siap dipindahkan ke lapangan. Bibit yang digunakan sebagai bahan tanam adalah bibit yang sehat, sudah memiliki 2-4 helai daun, batang besar, dan kokoh.
- Pengolahan Tanah dan Penanaman
- Pada saat benih TSS di persemaian berumur 40 hari setelah semai (6 minggu setelah semai), benih TSS Bawang merah baik persemaian di kotak semai maupun di lahan bedengan, dipindah tanam di lahan penanaman yang telah dipersiapkan sebelumnya.
- Bibit TSS dicabut secara perlahan supaya akar tidak putus. Untuk menghindari putus dan rusaknya akar,sebaiknya dilakukan penyiraman terlebih dahulu dilokasi persemaian untuk memudahkan pencabutan. Jarak tanam yaitu 10 x 15 cm dengan 2-3 bibit per lubang tanam. Untuk pupuk dasar dapat diaplikasikan : - Pupuk kandang matang (min 3 ton/Ha) - Pupuk P (125 Kg P2O5/Ha), 2 hari sebelum pindah tanam.
- Jika pada benih di bedengan maka lahan penanaman bawang merah sudah disesuaikan dengan ukuran lahan. Bedengan penanaman dibuat dengan lebar ± 120 cm dengan jarak antar bedengan ±40-50 cm. Sebelum benih TSS dipindahkan dilakukan penyiraman/pengairan bedengan terlebih dahulu untuk memberikan kelembaban tanah. Dapat ditambahkan kapur atau asam humat untuk menyeimbangkan pH tanah menyuburkan tanah
- Pemeliharaan dan Penyulaman
- Penyulaman juga perlu dilakukan pada tanaman Bawang Merah yang mati.
- Pada awal pertumbuhan sampai umur 3 minggu penyiraman dilakukan secara rutin pagi dan sore.
- Pemupukan dan Pengendalian OPT
- Untuk pupuk dasar dapat diaplikasikan : - Pupuk kandang matang (min 3 ton/Ha) - Pupuk P (125 Kg P2O5/Ha), 2 hari sebelum pindah tanam pemupukan susulan berupa pupuk N dan K dengan dosis 120 - 180 Kg N/Ha dan 60 Kg K2O/Ha, diberikan 3 kali yaitu pada umur 2, 4 dan 6 minggu setelah tanam masing-masing 1/3 dosis.
- Sedangkan untuk OPT yang sering menyerang yaitu, ulat grayak, trips dan lalat penggorok daun dan pengendaliannya menggunakan insektisida yang selektif dan efektif. Penyakit yang umum menyerang antara lain adalah antraknos, trotol (Alternaria Porrl), dan embun tepung (Peronospora destuctor). Untuk pengendaliannya menggunakan fungisida yang selektif dan efektif.
- Panen dan Pasca Panen
- Bawang Merah TSS dapat dipanen setelah 75% dari daunnya telah rebah dan umbi tersembul ke permukaan tanah, yaitu pada saat tanaman berumur 70-80 HST.
- Tanaman dicabut secara hati-hati, dibersihkan diikat, kemudian dijemur di bawah terik matahari langsung selama 7 hari. Setelah itu disimpan di atas para-para
(Penulis : Fatmah Sari Indah Hiola, Jaka Sumarno, dan Heppy Prasillia H)